MEDAN : Kehadiran Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas beserta istri, Airin Rico Waas, di Jalan Bunga Sakura, Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan pada Rabu (5/8/2026), membawa kebahagiaan tersendiri bagi warga setempat. Kunjungan yang diagendakan untuk meninjau program Bedah Rumah tersebut tak disangka berubah menjadi momen keakraban yang menyentuh hati masyarakat.
Bukan sekadar kunjungan formal, sikap ramah dan membumi yang ditunjukkan oleh Airin Rico Waas sukses mencuri perhatian warga. Dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya, ia menyapa dan menyalami satu per satu warga yang antusias menyambut kedatangan orang nomor satu di Kota Medan tersebut.
Suci, salah satu warga setempat, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok pemimpin Medan dan istrinya yang mau turun langsung menyapa warga di gang-gang pemukiman.
“Senang kali rasanya Bapak Wali Kota Rico Waas dan Ibu Airin mau datang langsung sampai ke kampung kami ini. Apalagi Ibu Wali Kota, orangnya sangat sopan, baik, dan cantik aslinya,” ungkap Suci dengan wajah berbinar, Rabu (5/8/2026).
Momen paling berkesan bagi Suci dan warga yang hadir adalah ketika Airin tanpa canggung membaur dengan ibu-ibu setempat. Bahkan, istri Wali Kota Medan itu tak segan meminta izin untuk menggendong anak dari ibu Suci yang masih bayi.
“Ibu itu ramah sekali sama masyarakat. Tadi anak saya yang masih bayi sampai digendong sama Ibu Airin. Terus bayinya diajak berbicara, diajak main-main juga. Terharu kali lihatnya, beliau seorang istri pejabat tapi sama sekali tidak ada jarak dengan kami warga biasa,” tambah Suci haru.
Program Bedah Rumah ini sejatinya merupakan bentuk nyata kepedulian Pemerintah Kota Medan untuk mewujudkan hunian layak bagi masyarakat prasejahtera. Namun, di balik peninjauan fisik bangunan, kehadiran sosok Airin yang penuh keibuan memberikan suntikan kegembiraan ganda bagi warga Jalan Bunga Sakura.
Sikap hangat dan merakyat dari pasangan Rico Waas dan Airin hari ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi warga Tanjung Selamat. Hal ini seolah membuktikan bahwa pengabdian tidak hanya sebatas pada program pembangunan fisik, melainkan juga lewat sentuhan hati dan kedekatan langsung dengan masyarakat. (Dwi)












