BATU BARA – Dari usaha rumahan di kawasan Pesisir Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara, produk olahan Cahaya Syajaril kini berhasil menembus jaringan ritel modern Alfamidi. Perjalanan tersebut menjadi titik penting bagi Syajaril dalam mengembangkan usaha yang telah dirintis sejak 2021. Berawal dari produksi makanan olahan secara mandiri, kini produknya telah dipasarkan di delapan toko Alfamidi.
Kesempatan itu datang pada Juli 2025. Saat itu, Syajaril bersama sekitar 100 pelaku UMKM lainnya dipertemukan dengan pihak Alfamidi oleh Dinas Koperasi dan UMKM.
Para pelaku usaha diminta menyerahkan sampel produk untuk diseleksi. Tak disangka, produk milik Syajaril menjadi salah satu yang terpilih untuk masuk ke jaringan ritel modern tersebut.
“Tidak mudah sebenarnya bisa masuk ke ritel modern. Waktu itu ada kurang lebih 100 pelaku usaha yang memberikan contoh produk atau sampel. Puji Tuhan, usaha kami menjadi salah satu yang terpilih,” ungkap Syajaril, Selasa (22/9/2026).
Sejak produknya masuk Alfamidi, perkembangan usahanya semakin terasa. Penjualan meningkat sekitar 50 persen, seiring bertambahnya akses konsumen terhadap produk buatannya.
“Alhamdulillah, untuk mendapatkan produk kami, pelanggan atau pembeli sekarang tinggal datang ke Alfamidi terdekat dari rumah mereka,” ujarnya.
Syajaril sendiri memproduksi beragam makanan olahan, mulai dari kacang intip, basreng pedas, bolu mini hingga aneka kue basah. Untuk mempertahankan minat konsumen, ia juga terus melakukan inovasi, termasuk memperbarui desain dan kemasan produk agar semakin menarik.
Salah satu produk andalannya adalah basreng pedas. Produk ini memiliki keunikan tersendiri karena sebagian bahan bakunya berasal dari lingkungan sekitar.
Ikan sebagai bahan dasar diperoleh dari kawasan Pesisir Lima Puluh, sementara cabai didatangkan dari Desa Lubuk Cuik yang dikenal sebagai salah satu sentra pertanian cabai merah.
Tak hanya mengolah hasil pertanian dan perikanan lokal, Syajaril juga menekuni sektor pertanian. Ia mengembangkan konsep “From Farm to Table”, yakni mengolah potensi bahan baku lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan dapat dinikmati konsumen.
Ke depan, Syajaril berharap kemitraan bersama Alfamidi dapat terus berkembang sehingga produknya tidak hanya tersedia di delapan toko, tetapi mampu menjangkau wilayah lain di Sumatera Utara.
Menurutnya, semakin luas pasar yang terbuka, semakin besar pula peluang usahanya berkembang dan menyerap lebih banyak tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
Kemitraan dengan pelaku UMKM menjadi salah satu upaya Alfamidi dalam memperluas akses pemasaran produk lokal. Melalui kanal ritel modern, produk-produk UMKM diharapkan semakin dikenal konsumen sekaligus memiliki peluang untuk berkembang dan naik kelas. (VIN)












